POSISI PEREMPUAN DAN ANAK DALAM BUDAYA PERANG DI PEGUNUNGAN BINTANG
POSISI PEREMPUAN DAN ANAK DALAM BUDAYA PERANG DI PEGUNUNGAN BINTANG
"....Nayak dalam perang [antar klen, kampung, dan marga], namanya perempuan dan anak usia dibawah umur, kurang lebih 15 tahun ke bawah, kami tidak biasa bunuh sembarangan".
Pada Jumat 17 September lalu, saya bicara dengan salah seorang pemuda asal Serambakon, namanya Adolus Asemki. Di media sosial dia menggunakan akun Facebook atas nama Asemki Sibilpomki .
Dia cerita tentang kebiasaan perang yang dulu hinga sekarang ini, yang melibatkan beberapa klen, marga, dan kampung dari lima suku besar yang ada di daerah yang bersebelahan dengan barat daya Papua New Guinea (PNG) itu.
Sedangkan menurut Oksinus Bukega, seorang intelektual muda yang progresif dari wilayah ini, mencatat, bahwa paling tidak perang tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor, antara lain perebutan lahan, perempuan, pencurian dan lain sebagainya.
Meski demikian, kata Asemki, orang tua mereka dulu, kalau perang tidak bisa ganggu perempuan dan anak-anak kecil dibawah umur. Itu bukan aturan baru. Tapi aturan ini berlaku secara turun-temurun.
"Entalah karena apa... Tapi dari dulu kami diajarkan untuk tidak membunuh perempuan dan anak kecil", katanya dalam telepon seluler.
Tidak ada alasan mendasar lain, kecuali menganggap perempuan sebagai sumber kehidupan dan anak kecil sebagai generasi penerus suku dan masyarakat adat yang harus dilindungi, dijaga dan dilarang keras untuk bertindak sewenang-wenang terhadap mereka pada saat perang berlangsung.
Kedua pihak yang bertikai sama-sama tahu, bahwa yang harus lawan, serang, bunuh dan lainnya adalah kelompok lelaki yang berusia dewasa. Bahkan anak-anak dari usia sekitar 15 tahun ke atas.
Selain dari itu, terutama ibu-ibu dan anak-anak kecil, sungguh pun lawan harus ketemu di medan peran, seperti di hutan, kebun, kali dan dimana saja tidak diperbolehkan untuk menganggu, apalagi menewaskan mereka.
Jikapun mereka–perempuan menjadi aktor utama atau penyebab dari konflik, mereka tidak akan pernah membunuhnya. Pihak korban atau pelaku akan mencari suami, keluarganya dan remaja dari lawan yang dianggap layak untuk dibunuh.
Karena bagi mereka membunuh perempuan atau anak kecil sama saja dengan menunjukkan ketidakmampuan, kebodohan, kekalahan dlsb.
Bahkan melanggar hukum dan pasti akan mendapatkan ganjaran berupa kutukan, denda dan sangsi adat yang lebih berat lagi. Nyawa pun bakalan menjadi taruhan bila terbukti membunuh perempuan dan anak kecil.
Kalau perang, perempuan cukup masak, dan anak-anak membantu mama, menyiapkan makanan dan minuman, kemudian antar ke tempat peperangan. Kemudian memberi makan kepada lawan maupun kawan.
Kebiasaan ini menjadi prinsip dasar peperangan lokal di daerah ini. Kehormatan terhadap perempuan dan anak usia dini sangat besar. Dan ini menjadi warisan budaya yang sangat penting dalam dunia peperangan lokal.
PEMBAWAAN MASYARAKAT ADAT SETEMPAT
"Kami orang asli Pegunungan Bintang tidak memiliki sifat biadab kepada sesama manusia, khususnya bagi perempuan. Jika terjadi perang suku, anak2, orang tua usia [dini] dan perempuan selalu dilindungi" demikian kata Theo Sitokdana.
Pernyataan atau tulisan Theo ini dikutip dari komentar yang diteruskan oleh Julian Haganah Howay yang membalas komentar Marinus Yaung dalam postingan akun Facebook atas Mugix Portnoy belum lama ini.
Masyarakat adat di daerah ini sangat terdidik, terlatih dan terbina dalam pendidikan adat. Mereka tahu batas-batas: dengan siapa yang pantas lawan, perang dan lainnya. Tahu aturan dan etika perang.
Yang tidak tahu tahu aturan perang tidak akan pernah dilibatkan, karena itu bisa saja berdampak buruk pada kehidupan bersama. Termasuk bisa mempengaruhi kehidupan perempuan dan anak-anak.
Semua yang terlibat di dalam perang adalah mereka yang dianggap pantas di mata kepala suku, tua-tua adat berdasarkan kelayakan dan pemenuhan syarat yang ditentukan oleh tetua adat, bahkan yang berlaku dari turun temurun.
Kebiasaan seperti ini hampir sama dengan suku Lanny, yang meliputi di kabupaten Lanny Jaya, Puncak, Tolikara, Mamberamo Tengah dan lainnya. Aturan "melarang perempuan dan anak kecil dibawah umur" menjadi aturan perang bak
Di balik ini ada pandangan yang sangat menarik, dimana mereka anggap perempuan selalu diperankan sebagai pendamai dalam peperangan atau pertikaian antar marga atau suku.
Sedangkan anak diyakini sebagai tunas harapan yang harus dilindungi dan dihormati, karena merekalah yang akan mengantikan posisi mereka di kemudian hari.
Hal itulah yang membuat orang-orang Pegunungan Bintang tidak berani membunuh perempuan dan anak-anak kecil dibawah umur dengan alasan apapun.
HIDUP DALAM FILOSOFI MANUSIA OK
"... sep, kami punya filosofi hidup, yaitu manusia ok".
Ok dalam bahasa Ngalum berarti air. Manusia ok berarti manusia air, yang lahir besar dan hidup dalam filosofi hidup itu.
Manusia ok dalam pengertian sederhana lain adalah orang yang suka membawah kesejukan dalam kegersangan, kedinginan dalam kepanasan, dan kedamaian dalam peperangan.
Filosofis manusia ok bukan baru. Adolus mengatakan bahwa nenek moyang mereka menetap di daerah itu, sudah diwariskan secara turun-temurun dan hingga saat ini masih berlaku.
Namanya orang yang lahir besar di wilayah adat Pegunungan Bintang tahu itu semua. Kecuali mereka yang lahir besar di luar, kawin silang dan peranakan. Tapi itupun kalau orang tuannya diajarkan pasti tahu filosofi hidupnya.
Dalam filosofi ini perempuan diidentikkan dengan seorang wanita yang membawah kesejukan hati, pikiran yang dingin, dan kedamaian bagi semua orang dan wilayah; menghilangkan debu; pemaaf dan menjadi tali rekonsiliasi yang penting.
Sementara itu, anak kecil dibawah umur menurut Adolus, dianggap sebagai sumber energi utama untuk menentukan nasib dan masa depan. Anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan juga diyakini ikut berperan penting dalam konflik seperti perempuan dewasa pada umumnya.
Misalnya, kelompok A dan B melakukan perang suku. Kemudian perempuan dan anak-anak kecil muncul di tengah peperangan. Kedua belah pihak bisa saja menghentikan gara-gara mereka.
Tujuannya tidak lain, adalah untuk menghindari tindak kekerasan dan kejahatan yang berpotensi menimpa perempuan dan anak.
Perempuan dan anak di Pegunungan Bintang menjadi simbol terpenting, yaitu sebagai simbol kesejukan, kedamaian dan pengharapan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan peperangan antara suku, wilayah dan lainnya.
Sehingga apabila ada orang mengatakan seorang laki-laki dewasa dan remaja dari wilayah ini membunuh perempuan atau anak perlu diidentifikasi baik-baik, agar tidak melahirkan stigma sosial yang buruk bagi masyarakat adat kelak.
"Orang tua tahu dan mereka kasih tahu kami... Bahwa kalau bunuh perempuan dan anak-anak, itu sama halnya dengan kita cari masalah baru. Leluhur dan moyang akan menguruk kami (pembunuh) perempuan dan laki-laki.
Mengapa hukum adat sangat melarang kami untuk tidak membunuh perempuan dan anak-anak?
Karena dalam filosofi hidup dan kehidupan sehari-hari mereka menjadi simbol kesejukan, kedamaian dan kebahagiaan sejati.
Jayapura, 20 September 2021
Kredit Foto: Misionaris katolik di sebuah bandar perintis di Oksibil Pegunungan Bintang. Dari Kaka Eman Petege
Kalau tulisan ini salah, Asemki Sibilpomki Sibilki Melkior Sitokdana Oksianus Uropmabin Bukega Jhocey Almung Gerald Bids Kahipdana Iptik dan lain-lain boleh koreksi....
Yepmum....
Komentar
Posting Komentar