Hai Perempuan Papua Mau Nonton Semua Generasi Habis pelan - Pelan Depan Mata Atau Akhiri
Koya o,Wiwa o, Jousuba,Foy,Waniambey,Dormom,Kinowonak,Amakane,Telebe,Nayaklak
Waa waaa.....
Koya abata o Yagamoudo Idima,
Dalam rangka memperingati hari Perempuan Internasional tahun 2025 dengan tema "Mempercepat Aksi" saya mencoba menulisan sedikit tulisan kaki ini agar menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan dari hidup yang aman,damai dan sejahtera atas negri Leluhur kami Papua.
Banyak perempuan Papua dan perempuan secara keseluruhan belum mengetahui hari Perempuan Internasional olehnya saya mencoba memberikan sedikit sejarah para perempuan hebat dimasa lampau.
A.SEJARAH PANJANG
Hari Perempuan Internasional (International Women's Day atau IWD) yang diperingati setiap tanggal 8 Maret setiap tahunnya, memiliki sejarah panjang dan kaya yang berakar pada perjuangan perempuan untuk kesetaraan dan keadilan. Berikut adalah rangkuman sejarahnya:
Awal Mula Perjuangan:
Tahun 1908: 5.000 perempuan di New York City, Amerika Serikat, melakukan demonstrasi menuntut hak suara, upah yang lebih baik, dan jam kerja yang lebih pendek.
Tahun 1910: Clara Zetkin, seorang aktivis perempuan sosialis Jerman, mengusulkan ide Hari Perempuan Internasional pada Konferensi Internasional Perempuan Pekerja di Kopenhagen, Denmark.
Konferensi tersebut menyetujui usulan Zetkin, tetapi tidak menetapkan tanggal pasti.
Tahun 1911: Hari Perempuan Internasional pertama kali dirayakan pada 19 Maret di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss. Lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki berpartisipasi dalam demonstrasi yang menuntut hak perempuan untuk bekerja, memilih, memegang jabatan publik, dan mengakhiri diskriminasi.
Tahun 1913-1914: Perempuan Rusia merayakan Hari Perempuan Internasional pertama mereka pada hari Minggu terakhir bulan Februari.
Penetapan Tanggal 8 Maret:
Tahun 1917: Pada hari Minggu terakhir bulan Februari (8 Maret dalam kalender Gregorian), perempuan Rusia melakukan pemogokan menuntut "roti dan perdamaian" sebagai respons terhadap kematian lebih dari 2 juta tentara Rusia dalam Perang Dunia I.
Pemogokan ini dianggap sebagai awal dari Revolusi Rusia.
Tahun 1975: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai merayakan Hari Perempuan Internasional pada tanggal 8 Maret.
Tahun 1977: Majelis Umum PBB secara resmi menetapkan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional.
Makna dan Tujuan:
Hari Perempuan Internasional menjadi simbol perjuangan perempuan melawan diskriminasi dan ketidaksetaraan di seluruh dunia.
Hari ini adalah kesempatan untuk merayakan pencapaian perempuan di berbagai bidang, serta untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu yang masih dihadapi perempuan, seperti kesenjangan upah, kekerasan, dan kurangnya representasi dalam kepemimpinan.
Hari ini juga menjadi momentum untuk menyerukan tindakan untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
Hari Perempuan Internasional terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman, tetapi inti dari perayaan ini tetap sama: merayakan perempuan dan memperjuangkan hak-hak mereka.
B. BAGAIMANA PEREMPUAN PAPUA MELAWAN KEJAHATAN DIATAS TANAH PAPUA
Perempuan Papua menghadapi tantangan kompleks dalam melawan penindasan di tanah mereka. Perlawanan mereka termanifestasi dalam berbagai bentuk, yang mencakup:
Aktivisme dan Advokasi:
Banyak perempuan Papua aktif dalam organisasi masyarakat sipil, memperjuangkan hak asasi manusia, keadilan, dan kesetaraan.
Mereka menyuarakan keprihatinan mereka tentang pelanggaran hak asasi manusia, diskriminasi, dan dampak konflik terhadap komunitas mereka.
saya Selalu terinspirasi dengan senior saya Esther Haluk adalah salah satu contoh aktivis perempuan asli Papua, ia melawan kekerasan dengan karya sastra.
Perlindungan Hak-Hak Adat:
Perempuan Papua memainkan peran penting dalam melindungi tanah adat dan sumber daya alam mereka.Mereka menentang perampasan tanah dan eksploitasi sumber daya yang merusak lingkungan dan mata pencaharian mereka.
Perempuan Papua memiliki peran sentral dalam menjaga pengetahuan tradisional dan praktik budaya yang terkait dengan tanah mereka.Pendidikan dan Pemberdayaan:
*p Perempuan Papua berjuang untuk akses yang lebih baik ke pendidikan dan layanan kesehatan.
* Mereka berupaya untuk memberdayakan diri mereka sendiri dan perempuan lain melalui inisiatif pendidikan dan pelatihan.
* Mereka menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk memecahkan siklus penindasan dan mencapai kesetaraan.
Ekspresi Budaya dan Seni:
Perempuan Papua menggunakan seni, musik, dan bentuk ekspresi budaya lainnya untuk menyampaikan pengalaman dan perjuangan mereka. Melalui seni, mereka mempromosikan identitas budaya mereka dan meningkatkan kesadaran tentang masalah yang mereka hadapi.
* Memaknai “Mama Tanah” dalam Perjuangan Perempuan Papua Melalui Seni Rupa.
Melawan Kekerasan:
* Perempuan Papua melawan kekerasan yang dilanggengkan negara.
Perempuan Papua juga dihadapkan pada impunitas dan trauma akibat pelanggaran HAM berat, dimana kekerasan yang dialami Perempuan Papua itu berlapis; kekerasan domestik, cultural dan institusional, termasuk paling banyak diperbincangkan hari ini adalah dampak langsung maupun tidak langsung dari masifnya investasi di Papua bagi Perempuan Papua itu sendiri.
Perlawanan perempuan Papua adalah bagian integral dari perjuangan yang lebih luas untuk keadilan dan kesetaraan di Papua.
Komentar
Posting Komentar