YESUS TERANGKAT KE SURGA APA MAKNA BAGI BANGSA PAPUA
Mari kita lihat bagaimana Tuhan Yesus Kristus terangkat ke surga, atau yang dikenal sebagai Kenaikan Yesus Kristus, adalah peristiwa penting dalam kepercayaan Kristen yang terjadi 40 hari setelah kebangkitan-Nya dari kematian. Peristiwa ini dicatat dalam beberapa bagian Perjanjian Baru, terutama dalam Injil Lukas (Lukas 24:50-53) dan Kisah Para Rasul (Kisah Para Rasul 1:6-11).
Sejarah dan Latar Belakang
Setelah penyaliban dan kebangkitan-Nya, Yesus menghabiskan waktu 40 hari untuk menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Selama periode ini, Ia memberikan pengajaran lebih lanjut mengenai Kerajaan Allah, menjelaskan nubuat-nubuat dalam Kitab Suci yang telah digenapi melalui diri-Nya, dan mempersiapkan para murid untuk misi mereka di kemudian hari.
Penampakan-penampakan ini bukan sekadar bukti bahwa Ia hidup kembali, tetapi juga untuk menegaskan identitas-Nya sebagai Anak Allah dan untuk memperkuat iman para pengikut-Nya sebelum Ia meninggalkan mereka secara fisik. Para murid seringkali masih bergumul dengan pemahaman penuh akan misi dan tujuan Yesus, dan penampakan-penampakan ini membantu mereka memahami peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi.
Mengapa Tuhan Yesus Kristus Terangkat ke Surga?
Kenaikan Yesus ke surga memiliki beberapa makna dan tujuan teologis yang mendalam bagi umat Kristen:
- Penyelesaian Misi Ilahi-Nya di Bumi: Kenaikan melambangkan bahwa Yesus telah menyelesaikan seluruh karya penebusan-Nya di bumi. Ia telah lahir, hidup tanpa dosa, mati sebagai korban pendamaian bagi dosa manusia, dan bangkit mengalahkan maut. Dengan naik ke surga, Ia menunjukkan bahwa misi-Nya telah tuntas dan Ia kembali kepada Bapa.
- Kembali kepada Kemuliaan Ilahi-Nya: Sebelum inkarnasi (menjadi manusia), Yesus adalah Allah yang berada dalam kemuliaan bersama Bapa. Kenaikan-Nya adalah kembalinya Ia ke posisi kemuliaan dan otoritas-Nya yang semula di surga, di mana Ia "duduk di sebelah kanan Allah Bapa." Ini menunjukkan otoritas-Nya atas segala sesuatu di surga dan di bumi.
- Membuka Jalan bagi Roh Kudus: Sebelum kenaikan, Yesus berjanji kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan mengutus Penolong, yaitu Roh Kudus. Kenaikan-Nya adalah prasyarat bagi kedatangan Roh Kudus pada Hari Pentakosta. Kehadiran Roh Kudus memungkinkan para murid untuk melanjutkan pekerjaan Yesus, memberdayakan mereka untuk bersaksi dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia.
- Sebagai Imam Besar dan Pengantara: Dalam teologi Kristen, Yesus sekarang berfungsi sebagai Imam Besar dan Pengantara di surga. Ia terus-menerus mendoakan dan mengadvokasi umat-Nya di hadapan Allah Bapa. Keberadaan-Nya di surga menjamin bahwa orang percaya memiliki akses langsung kepada Allah melalui Dia.
- Persiapan bagi Kedatangan-Nya yang Kedua: Kenaikan Yesus juga merupakan antisipasi dari kedatangan-Nya yang kedua kali. Dalam Kisah Para Rasul 1:11, malaikat menyatakan bahwa "Yesus ini, yang terangkat dari kamu ke surga, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga." Ini memberikan harapan dan janji akan kedatangan Kristus kembali untuk mendirikan Kerajaan-Nya secara penuh.
- Memberikan Harapan Surgawi bagi Orang Percaya: Kenaikan Yesus memberikan pengharapan bahwa orang percaya juga suatu hari nanti akan bersama Dia di surga. Ia telah pergi untuk "menyediakan tempat" bagi mereka yang percaya kepada-Nya (Yohanes 14:2-3).
Penderitaan Yesus dan Penderitaan Orang Papua
Banyak teolog dan aktivis di Papua melihat paralel antara penderitaan Yesus di kayu salib dengan penderitaan yang dialami oleh masyarakat Papua. Penindasan, ketidakadilan, dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terus terjadi dianggap sebagai "salib penderitaan" yang dipikul oleh umat Allah di Papua. Dalam konteks ini, kebangkitan Yesus bukan hanya peristiwa historis, tetapi juga harapan akan kemenangan atas penderitaan dan penindasan.
Kebebasan Berkristologi dan Identitas Papua
Gereja-gereja di Papua didorong untuk mengembangkan "kebebasan berkristologi", yaitu kemampuan untuk merumuskan pemahaman tentang Yesus Kristus yang relevan dengan konteks dan identitas Papua. Ini berarti tidak hanya mengadopsi teologi Barat, tetapi menggali iman Kristen dari perspektif pengalaman dan budaya Papua sendiri. Dengan demikian, kebangkitan Yesus menjadi landasan bagi kebebasan untuk mengklaim tanah, kehidupan, dan identitas mereka sebagai bagian dari misi Allah yang lebih besar.

Komentar
Posting Komentar