NAMA DIATAS SEGALA NAMA
Konsep bahwa Allah memberikan kepada Yesus nama di atas segala nama, seperti yang digambarkan dalam Filipi 2:1-11, adalah pusat dari teologi Kristen. Ayat-ayat ini sering kali dipandang sebagai salah satu deskripsi paling kuat tentang kerendahan hati, pengorbanan, dan peninggian Yesus Kristus. Mari kita uraikan maknanya dan kaitannya dengan Matius 3:17.
Filipi 2:1-11: Rangkaian Peristiwa yang Penting
Ayat-ayat ini sering disebut sebagai "Kidung Kristus" atau "himne Kristologi" karena menggambarkan pergerakan Yesus dari keadaan ilahi-Nya menuju inkarnasi, kematian yang memalukan, dan kemudian peninggian-Nya yang mulia.
Kerendahan Hati dan Penyangkalan Diri (Ayat 5-8):
Yesus, yang dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan atau dipergunakan untuk keuntungan pribadi.
Ia mengosongkan diri-Nya (kenosis), mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Kerendahan hati-Nya mencapai puncaknya ketika Ia taat sampai mati di kayu salib, kematian yang paling memalukan pada zaman itu.
Peninggian oleh Allah (Ayat 9-11):
Karena ketaatan-Nya yang luar biasa dan kerendahan hati-Nya, "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan menganugerahkan kepada-Nya nama di atas segala nama."
Nama yang diberikan ini adalah nama yang membuat "semua lutut bertelut, yang di surga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi, dan semua lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah Bapa!"
Pernyataan "Yesus Kristus adalah Tuhan" (Kyrios) adalah pengakuan yang sangat kuat, karena dalam tradisi Perjanjian Lama, gelar Kyrios adalah gelar untuk YHWH sendiri. Pengakuan ini menempatkan Yesus pada posisi ketuhanan yang tertinggi.
Jadi, dalam konteks Filipi, peninggian Yesus dan pemberian nama di atas segala nama adalah penghargaan ilahi atas ketaatan-Nya yang sempurna dan pengorbanan-Nya yang mendalam.
Kaitan dengan Matius 3:17
Matius 3:17 adalah ayat yang menggambarkan peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Pada momen ini, sebuah suara dari surga berkata:
"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Berikut adalah beberapa poin kunci yang menghubungkan kedua ayat ini:
Pernyataan Otoritas Ilahi: Kedua ayat ini berasal dari Allah Bapa. Di Matius 3:17, Allah secara langsung menyatakan hubungan-Nya dengan Yesus. Di Filipi 2:9, Allah Bapa yang meninggikan Yesus. Ini menegaskan bahwa peninggian Yesus bukan berasal dari diri-Nya sendiri, tetapi adalah tindakan ilahi.
Konfirmasi Keberkenanan: Ungkapan "kepada-Nyalah Aku berkenan" di Matius 3:17 adalah pernyataan persetujuan dan kasih sayang ilahi. Pernyataan ini menjadi fondasi bagi semua yang akan dilakukan Yesus. Ketaatan sempurna yang digambarkan di Filipi 2 adalah perwujudan dari "keberkenanan" ilahi ini. Yesus tidak hanya Anak yang dikasihi, tetapi juga Anak yang taat.
Perspektif Teologi:
Matius 3:17 adalah titik awal misi pelayanan Yesus. Ayat ini mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah sebelum Ia memulai pelayanan-Nya secara publik. Ini adalah janji tentang siapa Dia.
Filipi 2:1-11 adalah rangkuman dari seluruh misi pelayanan dan penebusan Yesus. Ayat-ayat ini menunjukkan apa yang terjadi setelah ketaatan-Nya yang sempurna, yaitu peninggian-Nya dan pemberian nama di atas segala nama. Ini adalah penggenapan dari janji yang diberikan di Matius 3:17.
Kesimpulan
Dalam rangkuman:
Matius 3:17 adalah proklamasi awal dan ilahi dari status Yesus sebagai Anak Allah yang dikasihi dan yang berkenan di hati Bapa. Ini adalah fondasi dari identitas ilahi-Nya.
Filipi 2:1-11 adalah narasi teologis yang menjelaskan bagaimana Yesus, melalui ketaatan dan kerendahan hati-Nya yang sempurna (seperti yang ditunjukkan oleh ketaatan-Nya yang memuncak pada kematian di salib), menggenapi status tersebut. Sebagai hasilnya, Allah Bapa "sangat meninggikan Dia" dan memberikan kepada-Nya "nama di atas segala nama" sebagai imbalan dan pengakuan atas pengorbanan-Nya.
Jadi, Matius 3:17 adalah permulaan dari cerita, sedangkan Filipi 2:1-11 adalah kesimpulan mulia yang menegaskan bahwa pengakuan Allah terhadap Yesus sebagai Anak yang dikasihi akhirnya terwujud dalam peninggian-Nya sebagai Tuhan atas seluruh ciptaan.

Komentar
Posting Komentar