MERENDAHKAN DIRI
A. Pendahuluan
Ayat Injil Matius 18:1-5 membahas tentang kerendahan hati sebagai syarat mendasar untuk masuk dan menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Yesus menggunakan sosok anak kecil sebagai teladan utama untuk menjelaskan konsep ini.
1. Latar Belakang Perikop
Konteks perikop ini dimulai dengan pertanyaan para murid kepada Yesus: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" (Matius 18:1).
Ambisi Murid-Murid
Pertanyaan ini mengungkapkan adanya ambisi, persaingan, dan pemikiran yang berorientasi pada status atau kekuasaan di antara para murid, yang mungkin berakar pada pemahaman yang keliru tentang sifat Kerajaan Allah—mereka mungkin mengharapkan kerajaan politik yang akan memberi mereka jabatan tinggi.
Konteks Budaya Anak-anak
Dalam masyarakat Yahudi pada abad pertama, anak-anak, terutama anak kecil, menempati posisi sosial yang rendah dan sering kali tidak diperhitungkan atau dihormati layaknya orang dewasa. Mereka umumnya dipandang sebagai kelompok yang tidak berdaya, tidak memiliki status, dan sepenuhnya bergantung pada orang tua. Dengan menggunakan anak kecil sebagai ilustrasi, Yesus sengaja membalikkan nilai-nilai sosial yang berlaku saat itu.
2. Arti dan Makna "Merendahkan Diri"
Yesus menjawab pertanyaan murid-murid dengan memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka.
Syarat Masuk Kerajaan Surga (Ayat 3)
Yesus dengan tegas menyatakan:
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."
Kata "bertobat" menunjukkan bahwa para murid—yang sibuk memikirkan kebesaran—berada di jalur yang salah. Mereka harus berbalik dari pemikiran ambisius mereka.
Makna "menjadi seperti anak kecil" bukanlah kembali menjadi kekanak-kanakan (childish) atau kurang dewasa secara intelektual, melainkan mengadopsi karakteristik dasar anak kecil:
Ketergantungan Total: Anak kecil sepenuhnya bergantung pada orang tua mereka untuk kebutuhan hidup. Demikian juga, pengikut Kristus harus memiliki ketergantungan penuh dan mutlak kepada Allah Bapa.
Kerendahan Hati dan Tidak Ambisius: Anak kecil tidak memiliki status sosial untuk dipertahankan, tidak punya pretensi, dan tidak berusaha untuk menjadi yang "terbesar." Sikap ini mewakili ketulusan, kepolosan, dan tidak adanya kesombongan atau keangkuhan yang didorong oleh ambisi duniawi.
Kepercayaan dan Ketaatan yang Sederhana: Anak-anak cenderung memiliki kepercayaan yang murni dan mudah diajar (mudah menerima ajaran), yang merupakan sifat penting dalam iman.
Jalan Menuju Kebesaran (Ayat 4)
Selanjutnya, Yesus mendefinisikan siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga:
"Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga."
Merendahkan diri" di sini berarti secara sukarela melepaskan klaim atas status, kekuasaan, atau kehormatan diri sendiri, dan mengambil posisi yang rendah hati, seperti posisi sosial anak kecil. Kebesaran di mata Tuhan tidak diukur dari kedudukan, pengaruh, atau pencapaian di mata dunia, tetapi dari tingkat kerendahan hati dan kemauan untuk melayani (prinsip ini juga diperkuat di tempat lain, seperti Matius 20:26-28).
3. Implikasi bagi Murid-Murid (Ayat 5)
"Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."
Yesus menutup dengan menekankan pentingnya menerima dan menghargai orang yang rendah hati (yang digambarkan seperti anak kecil). Ini memiliki dua implikasi:
Menghargai yang Kecil: Murid-murid diingatkan untuk tidak meremehkan atau mengabaikan mereka yang lemah, rapuh, atau memiliki kedudukan sosial rendah.
Identifikasi dengan Kristus: Dengan menerima orang yang rendah hati "dalam nama-Ku" (sebagai pengikut Kristus yang rendah hati), mereka sebenarnya menyambut Kristus sendiri. Ini menegaskan bahwa sifat kerendahan hati sangat erat kaitannya dengan Yesus Kristus.
KESIMPULAN
Secara keseluruhan, Matius 18:1-5 adalah teguran keras terhadap ambisi dan kesombongan. Inti pesannya adalah pintu masuk ke dalam Kerajaan Surga dan jalan menuju kebesaran di dalamnya adalah melalui pertobatan yang mengubah sikap hati menjadi rendah hati, tulus, dan sepenuhnya bergantung kepada Allah, seperti seorang anak kecil.

Komentar
Posting Komentar